Dosen Sangat Dihormati Di
Korsel
Pengalaman Dari Seoul
Setelah mengikuti perjalanan dalam
program pentas seni Budaya Internasional bersama Tim kesenian Sanggar
Mirah Delima Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, Aceh, dalam
rangka memenuhi undangan dalam rangka memeriahkan HUT Hankuk University
of Foreign Studies (HUFS), Seoul, Korea Selatan (Korsel) ke 50.
Saya dan beberapa anggota Rombongan Umuslim
yang dipimpin Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris SE, MSI, terdiri,
Wakil Rektor IV, Dr Sujiman.A.Musa,MA, Wakil Rektor II,III, Ketua Sanggar
Mirah Delima, Hj Nuryani Rahcman, empat orang Dekan, civitas akademika
dan sejumlah anggota Sanggar Mirah Delima, lebih kurang satu minggu kami
berada di kawasan Imun-dong, Dong Daemun-gu, Seoul, Korea Selatan. Korsel
tersebut banyak hal yang dan pengalaman baru yang dapat kami dapatkan baik dari
segi pergaulan, budaya maupun pendidikan yang sungguh jauh berbeda dari
kultur mahasiswa di Indonesia khususnya Aceh.
Salah satunya adalah dalam hal tingginya tingkat
moralitas mahasiswa dalam menghormati dan menghargai seorang guru ataupun
dosen. Pengalaman saya bersama dengan beberapa mahasiswa Korsel yang
mendampinggi kami selama di negeri Gingseng dimana para mahasiswa sangat segan
kalau berjumpa dengan dosen dan senior yang lebih tua dari mereka.
Pengalaman kami, pada satu hari, kami mengajak seorang dari pemadu kami untuk
bisa mendampingi kami ketempat yang diluar dari jadwal dan perintah guru
atau dosenya, mereka langsung menolak dan minta maaf untuk tidak bisa membantu
kami dalam hal tersebut.
Hal yang kami lakukan adalah untuk membantu
mempercepat proses pelaksanaan akativitas kegiatan mereka. Tetapi mereka
menyuruh kami untuk menelepon dan mmeminta izin dulu pada dosennya. Dan mereka
benar-benar sangat takut kalau ini dilakukan tanpa ada perintah atau izin dari
dosennya. Padahal setelah kami teleon dan beritahukan pada dosennya, dia tidak
ada masalah apa-apa disilahkan saja kemana dan apapun yang kami lakukan
sesuai dengan keinginan kami, karen mereka ditunjuk mendampingi untuk
kelancaran kami, sesuai kebutuhan kami selama berada di Korea.
Tetapi para mahasiswa Korsel ini tetap meminta
kami harus minta izin dulu pada gurunya. Masyarakat Korea juga sangat antusias
untuk belajar menimba ilmu, mereka tidak mempedulikan apakah uang kuliah
mahal atau murah tetapi mereka tetapa fokus hanya satu terus belajar dan
belajar. Begitu juga bagi mereka yang sudah usia dewasa mereka hanya tahu
bekerja dan bekerja tanpa mempedulikan hal-hal lain.
Bahkan mereka juga sangat jarang yang menikah pada
usia muda karena menurut cerita dari beberapa mahasiswa yang mendampingi kami,
bahwa mereka di waktu muda disuruh fokus belajar dan bekerja makanya
perkembangan perekonomian Korea sekarang hampir menyamai Jepang, dan bahkan
menurut informasi dari atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Korea Adriansyah
Rasul ketika menerima Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,Msi beserta
rombongan di ruang kerjanya, bahwa Invesatasi luar Negeri di Indonesia sekarang
yang paling besar adalah dari Perusahaan Korea dan telah mengeser Jepang.
Mahasiswa di Korse rata-rata sangat bangga kalau
belajar dan kuliahnya pada bidang budaya dan bahasa, makanya di Korsel sistem
perkuliahan seperti terfokus pada masing-masing bidang seperti misalnya Di
Hankuk University mayoritas fakultas adalah yang berafiliasi pada jurusan atau
program studi yang berhubungan dengan Budaya dan bahasa.
Begitu juga ada salah satu fakultas yang
hanya di buka khusus untuk wanita yaitu Ewha Womans University dimana
Universitas ini mahasiswanya semua wanita dengan uang kuliah satu tahun
rata-rata 133 juta. Tetapi untuk solidaritas kampus ini tetap ada
juga membuka kelas bagi laki-laki hanya pada musim panas dan musim
dingin.
Jadi tingat solidaritas dan menghargai sesama di
kalangan mahasiswa Korea juga sangat tinggi. Hal ini dapat kita lihat
dari kebebasan mereka berpakaian juga sangat dihargai oleh sesama, walaupun
pakaian mereka dengan memakai pakaian pendek jauh dari aturan syariat agama
Islam, tetapi mereka memakaii sesuai dengan kenyakinan mereka tetapi tingkat
pelecehan terhadap wanita di Korsel sangat rendah.
Dalam hal menghargai dan menghormati guru memang
bukan mengada-ada, dimana pengalaman pada malam ketiga saya dan rekan rekan
lain dan turut di dampinggi oleh dua orang mahasiswa Korea yang sudah bisa
berbahasa Indonesia yaitu Jeon Seung Heon dan Cho Eoi Geu kedua mereka sedang
menempuh pendidikan bidang kajian budaya Malay-Indonesia ini, sedang
duduk pada bangku yang agak tinggi kira-kira setinggi meja dan tiba-tiba
lewat seorang Profesor di depan kami dan tiba-tiba mahsiswa tersebut secara
refleks turun dari bangku tersebut sambil menghadap pada Professor tersebut
sambil membungkuk kepalanya seperti orang mau sujud, dan kami semua terkejut
dan tercenggang melihatnya.
Setelah itu kami menayakan kepada mereka kenapa
begitu repleks menghormati orang yang lewat sendiri, Mereka menjawab bahwa itu
gurunya dan budaya mereka kalau guru harus di hargai dan di hormati dan cara
berbicara juga tidak boleh keras-keras dan melawan sembarangan. Dan hal
seperti itu hampir tiga kali terjadi saat kami duduk disitu dengan orang lewat
yang berbeda-beda. Mereka mengatakan itu yang lewat adalah guru atau dosenya.
Dan bahkan untuk melapor sesuatu yang berhubungan dengan keperluan kami mereka
juga sangat sengan, tidak berani sembarangan mereka melapor dan memberitahukan
pada dosen atau gurunya. Mereka kadang-kadang meminta bantu pada kepala
rombongan kami untuk menyampaikan pada gurunya, karena dia sangat segan dan
hormat pada guru.
Ini sungguh sangat
berbeda dengan budaya kita yang beragama Islam, dan sangat menjunjung
adat ketimuran, Dimana dewasa ini pergeseran moral dikalangan pelajar dan
mahasiswa kita sungguh memprihatinkan dan sangat jauh berbeda dengan mahasiswa
Korea, hampir tidak ada lagi budaya menghormati dan menghargai guru dan orang
yang lebih tua di kalangan pelajar dan mahasiswa kita dewasa ini. Padahal kita adalah orang yang beragama
Islam dan juga kultur budaya Aceh yang sangat Islami yang menyuruh umatnya
hormat dan menghargai para guru, orang tua dan orang yang lebih tua dari
kita.
Bangsa korea melalui pendidikan tidak hanya cerdas
dan mampu mempu membangun secara fisik tetapi yang lebih bermakna lagi
adalah telah mampu memangun karakter dan
menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa, kepatuhan kepada norma-norma dan
kemuliaan kepada orang yang lebih dewasa.
Tetapi fenomena hari ini sudah terbalik justru budaya
menghormati dan menghargai guru dan orang yang lebih tua telah di aplikasikan
oleh orang Korea yang beragama Atheis, maka untuk menjawab tantangan
tersebut karakter-karakter budaya Islami dan kultur Masyarakat Aceh perlu
mendapat perhatian serius dari kita semua yang dimulai dari keluarga,
masyarakat dan lingkungan pendidikan dan lemabga-lembaga lainnya.
Sungguh miris keadaan budaya menghormati guru
dikalangan pelajar dan mahasiswa kita hari ini. Demikian sekelumit kisah yang
tercecer dari perjalanan tim Seni Sanggar Mirah Delima Universitas Almuslim
Peusangan Bireuen ke Negeri Ginseng.
Coretan Zulladasicupak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar